Gubernur NTT Murka soal Tragedi Siswa SD di Ngada: Desak Evaluasi Total dan Pemeriksaan Kepala Sekolah
Kupang / Ngada, NTT — Gubernur Nusa Tenggara Timur Melki Laka Lena melontarkan kritik keras dan menyampaikan rasa prihatin mendalam terhadap Pemerintah Kabupaten Ngada menyusul tragedi meninggalnya seorang siswa Sekolah Dasar akibat persoalan dasar pendidikan, yakni ketidakmampuan keluarga menyediakan alat tulis.
Bagi Gubernur, peristiwa memilukan ini bukan insiden sepele, melainkan potret kegagalan sistemik negara dan pemerintah daerah dalam melindungi warganya yang paling rentan—anak-anak dari keluarga miskin ekstrem.
Dalam peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa, Selasa (4/2/2026), Melki secara terbuka menyatakan rasa malu dan keprihatinan mendalam, bahkan menilai negara telah lalai menjalankan kewajiban konstitusionalnya.
“Ini bukan soal buku dan pulpen semata. Ini bukti kemiskinan ekstrem dan lemahnya sistem perlindungan sosial. Negara gagal hadir,” tegas Melki.
Gubernur menilai tragedi ini sebagai kegagalan menyeluruh, mulai dari pemerintah daerah, lingkungan sosial, hingga institusi pendidikan dan keagamaan yang seharusnya menjadi jaring pengaman terakhir bagi warga miskin.
Pernyataan tersebut secara implisit memperkuat tuntutan publik agar kepala sekolah SD Negeri tempat korban bersekolah diperiksa secara serius, khususnya terkait:
Desakan pemeriksaan ini sejalan dengan prinsip akuntabilitas publik dan kewajiban penyelenggara pendidikan untuk memastikan tidak ada anak yang tersisih karena faktor ekonomi.
Mengacu pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, negara dan pemerintah daerah wajib menjamin pendidikan dasar tanpa memungut biaya.
Dalam konteks ini, pemeriksaan terhadap kepala sekolah menjadi langkah mendesak untuk memastikan tidak terjadi pungutan liar (pungli) yang membebani peserta didik.
Kasus ini juga berkaitan erat dengan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP). Masyarakat berhak mengetahui secara transparan:
Ketertutupan informasi justru akan memperparah krisis kepercayaan publik terhadap institusi pendidikan.
Tragedi ini menjadi peringatan keras bahwa persoalan kemiskinan ekstrem dan pendidikan tidak bisa ditangani secara administratif semata. Diperlukan evaluasi menyeluruh, sanksi tegas jika ditemukan pelanggaran, serta pembenahan sistem agar sekolah benar-benar menjadi ruang aman bagi anak.
Desakan publik kini menguat: usut tuntas, periksa kepala sekolah, buka data secara transparan, dan pastikan tragedi serupa tak terulang.
(TIM)
0 Komentar