Ads BEnner

Polwan gadungan satu ini sudah bisa beli kantor Polresta sekalian. Bukan main nyalinya

Polwan gadungan satu ini sudah bisa beli kantor Polresta sekalian. Bukan main nyalinya



Kota Medan,8 Januari 2025

Kalau nekat bisa dijadikan mata uang, mungkin Polwan gadungan satu ini sudah bisa beli kantor Polresta sekalian. Bukan main nyalinya. Orang lain ke Polresta saja sudah keringat dingin, ini malah datang pakai seragam Brimob, pangkat AKP pula, lalu duduk manis di depan Kapolresta. Bukan kaleng-kaleng. Ini galon nyali.



Dea Rahmanisa seolah ingin membuktikan satu hal: di negeri ini, kadang seragam lebih dipercaya daripada identitas. Selama tampilan meyakinkan, langkah tegap, dan bicara penuh percaya diri, pintu-pintu kekuasaan bisa terbuka. Bahkan sampai level Kapolresta.

Yang bikin miris sekaligus ironis, tipuannya nyaris berhasil. Ia tidak datang minta selfie, tidak minta tanda tangan, tapi langsung minta penangguhan penahanan tersangka. Levelnya bukan prank TikTok, tapi sudah prank sistem.

Untung saja Kapolresta Pontianak punya radar kecurigaan yang masih aktif. Begitu dicek ke alumni Akpol 2007—yang katanya jadi almamater Dea—hasilnya nihil. Tidak ada Dea, tidak ada Dewa, tidak ada siapa-siapa. Yang ada cuma cerita karangan tingkat dewa.

Lucunya, Dea sendiri mengaku jadi “polisi” karena katanya banyak yang bilang wajahnya mirip polisi. Ini logika yang sama seperti orang ngaku pilot karena sering naik pesawat. Atau ngaku dokter karena sering masuk IGD. Absurd, tapi ternyata cukup ampuh menipu orang.

Kasus ini sebenarnya lebih dari sekadar kisah penipuan individu. Ia menampar kita semua. Menampar citra institusi, menampar cara masyarakat memandang hukum, dan menampar mental “asal ada orang dalam, semua bisa diurus”.

Karena jujur saja, kalau masyarakat tidak percaya bahwa “pakai uang bisa ngurus tahanan”, maka Dea tidak akan laku. Penipuan semacam ini hidup karena ada ekosistem kepercayaan palsu yang dipelihara bertahun-tahun.

Pelajarannya jelas:

Jangan percaya seragam tanpa verifikasi.

Jangan percaya janji penangguhan pakai uang.

Dan yang paling penting, jangan remehkan rasa percaya diri orang yang salah—karena itu bisa sangat berbahaya.

Untung kasus ini berakhir di KFC, bukan di ruang tahanan yang salah dibuka. Kalau tidak, bisa-bisa besok ada yang nyamar jadi jenderal, lusa nyamar jadi menteri.

Di negeri ini, ternyata yang paling mahal bukan seragam, tapi akal sehat. Dan yang paling langka, bukan pangkat, tapi rasa malu.

Posting Komentar

0 Komentar

Close Menu